Renungan pagi part 1
Hari ini aku terbangun jam 03.00, pasti kesempatan kyk gini gak aku lewatin. Selesai shalat tahajud, aku baca surat Al Waqiah.
Dan sampai jam 03.47 aku belum bisa tidur, tentu lagi liat2 Hp. Habis bayar settlement di aplikasi Bisnis KITA kemudian intip ig. Dan gak sengaja malah berlanjut intip ig nya mb wice.
Dalam hati..
Ya Allah..orang ini dulu memulai jualan barengan ama aku. Tapi sekarang sudah melambung tinggi menjadi stockis, orang sukses, orang kaya. Sama kaya mb faizah juga, dia yang juga barengan ama aku sekarang udah jadi Distributor. Fee udah bisa dipastikan lagi mungkin 20jutaan lebih tiap bulan. MasyaAllah...
Sedangkan aku..
Aku yang sampai sekarang masih seperti ini, masih jadi agen, rumah masih ngontrak di rumah ibu mertua, omset tim yang kian turun, fee yang pas-pas an. Kadang minus akhirnya ngambil modal belanja.
Nyesek..iri..campur aduk.
Ketika melihat teman seperjuangan atau lebih tepatnya seleting udah pada sukses.
Ya allah..kapan giliranku bisa seperti mereka😭
Kenapa rejekiku tidak sederas mereka ya Allah..
Kapan aku bisa punya omset dan fee seperti mereka?
Sungguh aku benar-benar insecure😭
Kalau aku ceritain ke suami, pasti tanggapannya hanya " ya alhamdulillah..rejekinya masing-masing bun "
Suamiku memang bukan type orang yang sirikan, bukan type orang yang suka iri atau bergosip. Dia selalu positif thinking.
Aku tidak tau apa yang menjadi penghambat rejekiku?
Apakah karena masa laluku?
Apakah aku yang kurang memuliakan orang tuaku?
Apakah aku yang kurang bersedekah?
Atau apa ya Allah..
Sungguh..
Setelah menikah th 2013 sampai sekarang aku dan suami masih hidup dalam kondisi yang " pas-pas'an ".
Tahun 2014 ketika aku hamil anak pertama, gak jarang aku minta uang dari ibuku untuk memenuhi kebutuhanku karena gaji dr suami tidak cukup. Gaji yang hanya 1,5juta. Itupun kadang diberikan dg dicicil😭
Perjuangan banget dulu hamil anak pertama. Harus memilih untuk berhenti bekerja krn aku mabuk di trimester pertama, harus merelakan tidak meneruskan ngontrak dan harus pindah ke rumah ibu mertua. Harus beradaptasi untuk tinggal disana dg segala perasaan yg kadang campur aduk. Karena bagaimana pun aku type orang yang suka tinggal sendiri, bukan nyampur dg ibu mertua, apalagi disini juga ada kakak ipar, suami dan anak-anaknya.
Sampai akhirnya setelah kehamilanku lumayan besar, aku mulai mencari pekerjaan yang bisa ku kerjakan dg online. Gabung menjadi member oriflame. Dg perut besar aku gak jarang naik turun metromini sendiri untuk ambil baranh di kantor oriflame sudirman. Karena suami saat itu juga masih ada kerjaan.
Tapi setelah anak pertama lahir, aku memutuskan untuk keluar dr oriflame krn ingin fokus mengurus anak. Setelah ini ujian datang..
Aku yang udah gak bekerja online, lalu kerjaan suami juga seret. Ganti tahun makin seret. Jujur aku bingung harus gimana?
Gak ngerti lagi harus minta uang ke siapa selain ke ibuku.
Kemudian tahun 2015 akhir aku mulai jualan online lagi, Batrisyia herbal. Memulai dg menjadi marketer lalu menjadi leader. Dengan modal kuota Hp. Ternyata ada rejekiku disana. Alhamdulillah..
Sampai ada satu moment ketika aku menjadi leader, aku punya omset pribadi 10juta dan omset tim saat itu 60juta. Dengan total fee yang aku dapat adalah 6juta. Masyaallah gak nyangka banget.
Saat itu langsung aku transfer ke ibuku 2juta untuk keperluan orang tua. Ibuku senang sekali dan gak nyangka aku bisa dapet duit dr mana.
Dan ternyata itu adalah start dimana aku mulai merangkak naik, dengan penghasilan yang cukup settle dimasa itu. Entah karena apa kondisi itu malah jadi terbalik dg suami.
Ketika aku mulai naik, kerjaan suami malah seret. Gak ada kerjaan..gak ada pemasukan. Dan aku menjadi satu-satunya sumber keuangan keluarga.
Sejak saat itu segala kebutuhan keluarga aku semua yang mencukupi sampai sekarang.
Aku bersyukur, aku masih bisa mencukupi kebutuhan keluargaku tanpa aku harus kepanasan, kelelahan, atau kerja keras. Aku masih bisa merawat anak-anakku dg cukup baik, menemani mereka bersama.
Tapi kadang ada juga pikiran yang merasuk, kenapa suamiku akhirnya seperti "ngegampangin", kurang berusaha untuk nyari kerjaan. Lebih ke ngandelin aku.
Bagaimana konsep pernikahan yang seharusnya, suami sebagai kepala rumah tangga dan tulang punggung keluarga, suami yang berkewajiban memberi nafkah untuk istrinya. Tidak sekali dua kali aku punya pikiran seperti itu.
Lalu aku sempat berpikir, apa aku off aja jualannya ya biar suami tersentil untuk nyari kerjaan lebih giat lagi. Tapi aku gak bisa.
Aku tidak bisa berpikir egois, aku punya anak-anak yang membutuhkan kehidupan yang layak. Mereka layak mendapatkan makan yang cukup, jalan-jalan, jajan dan biaya sekolah serta biaya lain-lain.
Akhirnya aku bertahan..
Kadang ketika akupun dalam kondisi down dan kekurangan uang, aku bingung harus kemana lagi? Dan satu-satunya harapanku cuma ibu.
Tapi sekarang tidak lagi..
Ibuku sudah meninggal, ibuku yang menjadi harapan anak-anaknya sudah diambil Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa " di jagakne " ketika nanti aku kesulitan masalah ekonomi. Walaupun sebenarnya aku tau bapak menyimpan uang peninggalan ibu dg nominal yang cukup banyak. Tapi sebisa mungkin aku gak njagakne itu.
Karena waktu 6bulan selama dirumah aku sudah cukup tau bagaimana karakter asli bapakku dg kondisi ditinggal ibu.
Entahlah...
Apa aku harus kecewa terhadap bapakku sendiri atau gimana yang rasanya seperti pelit terhadap aku dan galih. Atau gimana aku bingung. Yang pasti aku jadi tau bahwa sekarang tidak ada lagi yang bisa aku jagakne. Tidak ada lagi backingan materi yang bisa sewaktu-waktu aku mintai tolong.
Aku harus berjuang SENDIRI..
Maka dari itu ya allah..
Bolehkah hamba minta 1hal, berikan hamba kesempatan untuk menjadi ORANG SUKSES seperti mereka yang sama-sama berjuang dari nol.
Lihatlah keluarga hamba ya allah, sudah hampir 7tahun keluargaku hidup disini. Tinggal di satu kamar yang bisa aku sebut seperti kamar kosku dulu. Karena di kamar ini kami ber4 tidur, kami makan, kami beraktifitas.
Harapanku dulu adalah sudah ngontrak rumah sendiri ketika mau punya anak kedua. Qodarullah..sampai saat ini dg penghasilanku yang hanya cukup untuk kebutuhan 1bulan, aku blm bisa menyisihkan uang untuk ditabung. Harga rumah kontrakan yang sangat mahal. Sekitar 40juta lebih setahun.
Harapanku ya allah tahun 2022 mendatang ada perubahan besar dalam hal pemasukan keluarga. Suami bekerja lagi, dapat trayek besar, kerjaan lancar, pembayaran gajinya lancar. Minimal ada pemasukan dr suami 3juta. Dan juga pemasukan dr jualanku minimal 5juta.
Aku pengen bisa nabung tiap bulan 2juta.
Dan tahun 2023 ketika keisha sudah mulai aktif sekolah, pandemi ini juga sudah berakhir, semoga semakin Engkau deraskan rejeki hamba sehingga hamba bisa punya penghasilan 10juta.
Tahun 2024 hamba bisa ngontrak rumah.
Ya allah kabulakn ya allah...
Bismillah..Engkau yang Maha Pemurah, Engkau yang Maha Pemberi rezeki
Aminnn..aminnn.. Qobul ya Allah...🙏🙏🙏